JAYAPURA – Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua, DR. Ir. Happy Mulya, ME mengaku banjir yang terjadi di Kota Jayapura lebih disebabkan karna alih fungsi lahan yang terjadi secara masif dan diperparah banyaknya sampah di kali maupun got.

“Kita ketahui di hulu sungai-sungai yang ada, masyarakat membuka ladang, membangun perumahan. Selain itu kurangnya kepedulian masyarakat membuang sampah, sehingga saat hujan sampah yang dibuang ke kali menjadi sendimen dan tidak membuka aliran airnya,”ungkap Happy Mulya kepada wartawan usai turun meninjau lokasi banjir di Kompleks SMU 4 Entrop.

Menurutnya, harusnya di daerah-daerah tersebut harus dikendalikan perkembangannya, karena merupakan daerah tangkapan dan resapan air. Ia mengatakan, saat terjadi perubahan dengan adanya alih fungsi lahan yang sangat massif itu, maka volume air yang akan turun ke hilir semakin besar, dan ini terjadi di seluruh hulu sungai, mulai dari Cycloop Sentani hingga Kota Jayapura.

“Dengan adanya perubahan itu, maka aliran permukaan semakin meningkat. Jadi, ketika hujan, selain air melimpah, dia juga membawa sedimen memasuki badan sungai,”katanya.

Ia menambahkan, sungai-sungai di Kota Jayapura, mulai Sungai Anafri, Entrop 1, Entrop 2 dan Entrop 3, Siborgonyi, Kali Acai sampai Kampung Harapan, mengalami peningkatan banjir dan ada daerah-daerah yang menjadi langganan banjir seperti di Perum Organda dan Konya, Kompleks SMA 4 Entrop, Pasar Youtefa.

“Lokasi-lokasi ini yang dulunya tempat tinggalnya air tapi berkembang menjadi tempat tinggalnya manusia dan perdagangan, sehingga ketika hujan deras, menjadi langganan banjir atau tergenang air,”bebernya.

Selain alih fungsi lahan di daerah hulu yang sangat masif yang menjadi penyebab utama banjir di Kota Jayapura maupun Kabupaten Jayapura, juga disebabkan karena adanya penyempitan sungai.

“Penyebab banjir ini juga karena adanya penyempitan sungai. Dulu sungai itu lebarnya 8-10 meter, sekarang sudah sempit menjadi 2-3 meter saja karena pembangunan rumah memasuki badan sungai. Bisa dibayangkan, kalau hujan deras airnya bisa meluap seperti di daerah belakang Hotel 77 Abepura,”tandasnya. (lam/rm)

LEAVE A REPLY