JAYAPURA – Pemerintah Provinsi Papua rencananya dalam waktu dekat akan melakukan sosialisasi mengenai bahaya dan dampak mengisap lem aibon kepada para pecandu.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Papua, Anike Rawar mengungkapkan, aksi untuk menyadarkan anak pecandu pengisap lem aibon, instansinya dalam waktu dekat bakal menggelar sebuah iven di GOR Waringin Kotaraja Jayapura. Kegiatan ini bakal melibatkan seluruh pecandu aibon yang ada di Jayapura.

“Sehingga melalui kegiatan ini kita ingin memberi sosialisasi maupun pemahaman kepada anak-anak yang sudah menjadi pecandu aibon ini. Dengan harapan mereka bisa menyadari apa yang dilakukan itu, karena selain membahayakan kesehatan juga merusak masa depan mereka,”ucapnya.

Menurutnya, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Papua sangat prihatin dengan kian maraknya anak pecandu pengisap lem aibon yang berkeliaran di Kota Jayapura.

“Untuk mengani hal tersebut perlu perlu ada keterlibatan semua pihak untuk menyadarkan anak pecandu pengisap lem aibon. Sebab kami tidak bisa kerja sendiri. Perlu keterlibatan semua unsur masyarakat, orang tua maupun lembaga pemerintah terkait untuk melihat hal itu,”beber Annike Rawar.

Sebelumnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak Yohana Yembise mengimbau Pemerintah Provinsi Papua mesti mulai mengkampanyekan gerakan “stop cium lem aibon” dan sejenisnya kepada para generasi muda di negeri ini.
Menteri Yembise berharap Papua dapat mencontohi Papua Barat yang sudah lebih dulu mengkampanyekan hal itu.

Senada dengan hal itu, Kepala Dinas Sosial dan Permukiman Papua, Ribka Haluk berharap kampanye stop lem aibon dapat segera digalakkan di provinsi ini. Pasalnya, menurut laporan di lapangan, sejumlah anak jalanan di Papua kerap menghirup lem aibon, bahkan separuh dari jumlah itu sering diperalat pihak tertentu menjual narkoba.

“Sebelum menjadi penjual narkoba, rata-rata anak jalanan ini ternyata penghidup lem aibon yang saat ini sudah naik kelas sebagai pengedar dan pengguna. Mirisnya lagi sebagian besar anak jalanan merupakan keluarga broken home yang sering mangkal di seputaran Pasar Baru, Youtefa dan Abepura,”tambahnya. (ing/rm)

LEAVE A REPLY