TOLIKARA (PT) – Program 1000 HPK ini sangat bagus karena program ini merupakan suatu perjalanan untuk mencapai sebuah cita–cita yang besar di Papua yang lebih baik, khususnya di Kabupaten Tolikara bahkan Papua pada umumnya.

Seperti diketahui bersama bahwa ibu–ibu hamil dan ibu–ibu menyusui membutuhkan gizi yang cukup supaya perkembangan otak anak bisa berkembang dengan baik sehingga nantinya ketika mereka belajar dan bertumbuh, mereka lebih pintar.

Oleh karena itu, kedepan diharapkan generasi yang mengikuti program 1000 HPK ini bisa menjadi pemimpin–pemimpin di daerahnya.

“Itulah sebuah cita – cita besar yang ingin dicapai dalam program 1000 HPK ini,” kata dr. Aprilias Bonggaminanga usai pelayanan 1000 HPK pemberian makanan bergizi kepada ibu-bu menyusui dan ibu-ibu hamil di Kampung Kutime, Kabupaten Tolikara, Jumat (20/4/2018).

Namun sebelumnya, dr. Aprilias sudah lama mengabdi di Wamena Kabupaten Jayawijaya, sejak tahun 2016 dan sampai saat ini mengabdi di Kabupaten Tolikara di Puskesmas Kutime.

“Ada 7 orang tenaga kesehatan terdiri dari 1 dokter 4 tenaga bidan dan 2 perawat tenaga kesehatan. Dan di Puskesmas Kutime telah melayani ibu–ibu yang menerima program 1000 HPK. Ini terdiri dari ibu–ibu hamil ada 34 orang dan ibu menyusui ada 82 orang. Jadi ibu menyusui ini terbagi dalam tiga kelompok, mulaibanak umur 0–6 bulan berjumlah 31 orang dan umurv 6–12 bulan ada 23 orang serta umur 1 tahun keatas berjumlah 31 orang karena ada ibu anaknya kembar,” paparnya.

Dokter Aprilia Bonggaminanga juga menjelaskan, jika ibu hamil dan menyusui yang terdaftar dan aktif di program gizi Kutime itu berasal dari berbagai desa yang ada Distrik Nabunage diantaranya, Kampung Kutime, Menggena, Kabulogok, Parari, Kubugom, Nabunage, Wokuo, dan Bambuk.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam program 1000 HPK adalah screening kesehatan setiap ibu hamil yang baru mendaftar di program gizi kutime, yang meliputi pemeriksaan tes kehamilan, pemeriksaan penyakit HIV/AIDS, Sefilis, pemeriksaan HB, dan pemeriksaan kesehatan ibu hamil secara umum.

“Dan, ibu hamil dan ibu menyusui diberikan makanan bergizi setiap pagi dari hari Senin hingga hari Jumat, sedangkan untuk hari Sabtu dan hari Minggu diberikan bekal, juga diberikan  tambahan vitamin, zat besi dan asam folat setiap hari,” jelasnya.

Sementara bayi umur 6 bulan ke atas lanjutnya,  mendapatkan makanan pendamping asi setiap hari dan untuk

Ibu hamil mendapatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala setiap bulannya. Selain itu, juga mendapatkan suntikan Tetanus Toksoid sesuai jadwal TT yang telah diterima sebelumnya.

“Jadi ibu hamil dan ibu menyusui mendapatkan edukasi setiap harinya tentang kebersihan pribadi dan kesehatan bayi. Seperti mandi setiap hari dan cuci tangan sebelum makan. Bahkan ibu hamil dan ibu menyusui diajarkan untuk menyapa bayi dan menyapa anak setiap harinya untuk memperkuat ikatan batin antara ibu dan anak. Kemudian, ibu hamil mendapatkan edukasi untuk melaksanakan proses persalinan di Puskesmas agar persalinan dapat dibantu oleh petugas kesehatan atau menghubungi tenaga kesehatan untuk dibantu persalinannya, jika tidak bisa ke Puskesmas untuk persalinan,” paparnya.

Untuk itu, kata Aprilias, setiap bayi harus diberikan imunisasi setiap bulannya, yang disesuaikan dengan umur bayi dan diharapkan setiap bayi mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

Diakuinya bahwa akses jalan darat antar Distrik dan Kampung serta Kabupaten sudah terbangun dengan baik, namun medan topografi daerah Tolikara yang bergunung–gunung dengan memiliki kemiringan lereng yang terjal memaksa para ibu hamil dan menyusui harus berjalan kaki berkilo–kilo.

Bahkan kata dr. Aprilias, mereka berjalan kaki 5 hingga 8 kilo, datang dari kampung–kampung yang jauh ke Puskesmas tempat dipusatkannya pelayanan 1000 HPK dan kesehatan lainnya di Kutime.

Selain itu, pihaknya juga sering mengalami kesulitan saat memberikan pertolongan kepada ibu–ibu yang tengah dalam proses persalinan bayi dalam kandungan di kampung–kampung.

“Saya bersama para bidan sering turung ke kampung–kampung berjalan kaki hingga berjam–jam untuk memberikan pertolongan persalinan ketika ada ibu yang mau bersalin, dan ada yang bisa melahirkan bayinya dengan baik, tetapi ada ibu yang belum bisa melahirkan dua hingga tiga jam, bahkan bisa sampai satu minggu, sehingga kami harus rujuk ke RSUD Tolikara tapi kami mengalami kesulitan dengan alat transportasi karena jangkauannya sangat jau. Jadi kami minta dukungan pemerintah untuk memberikan kendaraan mobil dan motor di setiap puskesmas,” ujar Kepala Puskesmas Kutime dokter Aprilias.

Untuk itu, diharapkan kedepan Pemerintah Tolikara dan juga Instansi terkait lainnya dapat memberikan dukungan alat transportasi roda dua motor atau roda empat mobil. Sehingga diharapkan tenaga kesehatan di puskesmas bisa membuka pos yandu di sejumlah titik yang bisa menjadi pusat pelayanan.

Namun dr.  Aprilias berharap ibu-ibu hamil dan menyusui selama ini berjalan berkilo–kilo datang menerima pelayan di puskesmas itu bisa terbantu dengan pelayanan mobile klinik di sejumlah tempat terdekat dipusatkannya posyandu, selain itu ibu yang mengalami kesulitan bersalin di kampung bisa terbantu juga dengan mobile klinik itu ke RSUD Tolikara sehingga dengan cepat bisa diberikan pertolongan dengan adanya peralatan medis yang lengkap.

Dengan demikian kata Aprilias, kemungkinan bahaya gagal penanganan bisa tertekan turun, terutama ibu dalam proses persalinan.

Menurut Dr. Aprilias Bonggaminanga, selama digulirkannya program 1000 HPK di daerah ini, maka angka tingkat kematian ibu dan anak sangat berkurang jau, bahkan akhir–akhir ini hampir–hampir tidak ada. Selain itu seperti diketahui bersama saat ini anak–anak yang lahir dari program 1000 HPK ini bertumbuh dengan sehat dan secara fisik mereka sangat kuat dan pintar.

Karena itu, diharapkan kedepan Pemerintah Tolikara terus meningkatkan dan mengembangkan program 1000 HPK ini di kampung–kampung tersulit, karena pada tahun 2018 ini jumlah tenaga kesehatan terus bertambah dengan dibentuknya satgas kesehatan yang sudah diturunkan disejumlah kampung–kampung tersulit di seluruh Tolikara.

Sementara itu, salah satu ibu menyusui program 1000 HPK ibu Nella Wenda memberikan apresiasi tinggi kepada Bupati Tolikara Usman G.Wanimbo bersama Wakil Bupati Tolikara, Dinus wanimbo melalui Dinas Kesehatan Tolikara, yang terus melanjutkan program ini dari periode sebelumnya karena program mulia ini telah memberikan dampak positif.

“Kami senang menerima pelayanan program 1000 HPK ini, anak–anak kami bertumbuh sehat dan perkembangan anak–anak kami sangat pintar. Kami berharap program ini terus ditingkatkan,” harap ibu Nella Wenda.

Hal senada juga diakui salah satu ibu hamil Tipora Wanimbo menuturkan, kami masyarakat kampung Kutime telah menerima pelayanan 1000 HPK ini sejak 2016, dan anak pertamanya lahir dari program 1000 HPK dan anaknya ini bertumbuh sangat kuat dan pintar.

Ia pun berharap, bayi kedua yang ada dalam kandungan sejak awal menerima pelayan 1000 HPK dengan rutin karena itu ia berharap kelak anaknya lahir sehat dan sempurna.

Ketika ditanya terkait pemberian rapor merah dari Dinas Provinsi Papua kepada 9 Kabupaten yang menerima rapor merah itu, dokter Aprilias Bonggaminanga membeberkan, kalau Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Kesehatan mengklaim 9 Kabupaten di Provinsi Papua kinerja pelayanan kesehatan buruk dengan diberikannya rapor merah.

“Rapor merah itu mayoritas didominasi sejumlah Kabupaten di pengunungan tengah Papua termasuk Kabupaten Tolikara beberapa hari yang lalu dirilis melalui sejumlah media. Itu sesungguhnya tidak bisa dibenarkan seratus persen karena tanpa indicator yang patut dipercaya. Karena petugas dari Dinas Provinsi Papua saja jarang turun ke lapangan untuk melihat dan mengambil data pelayanan kesehatan. Kalaupun petugas bersangkutan turun di daerah–daerah, apa kah mereka merekam data dengan valid atau tidak,” ketusnya.

Sementara petugas kesehatan di daerah–daerah tambahnya, jarang didatangi petugas kesehatan dari Provinsi Papua. Selain itu petugas kesehatan yang bertungas di daerah juga selama ini sulit memberikan laporan pelayanan kesehatan ke tingkat Provinsi Papua karena alur pelaporannya juga tidak jelas.

“Karena itu, ketika Dinas Kesehatan mengklaim 9 Kabupaten diberikan rapor merah karena pelayanan kesehatan buruk itu patut dipertanyakan, ” tandasnya. (ara/dm)

LEAVE A REPLY