JAYAPURA (PT) – Ketua DPRP, DR. Yunus Wonda, SH, MH menilai bahwa masalah di RSUD Dok II Jayapura  merupakan masalah klasik dan bukan hal baru.

Karena, menurutnya bahsa dari dulu hingga kini tidak ada perubahan dan bahkan tidak pernah selesai masalahnya.

Ia berpendapat bahwa masalah yang ada dalam RSUD Jayapura karena tak ada transparansi managemen di dalam rumah sakit itu sendiri.

Baik dalam keuangan, informasi hingga pertanggungjawaban keuangan.

“Justru rumah sakit ini bukan rumah sakitnya yang sakit tapi manusianya yang sakit,” tegasnya saat melakukan kunjungan ke RSUD Jayapura, Senin (27/8/2018).

Ia meminta manajemen rumah sakit agar mengusulkan kebutuhan yang dibutuhkan, karena banyak hal yang harus dilengkapi di rumah sakit.

“Aneh, di ruang ICU tempat tidur tak ada spereinya. Hal-hal seperti ini yang harus dinaikkan dan diperhatikan dengan baik, supaya pelayanan rumah sakit itu tetap dipertahankan,” katanya.

Selain itu, ia menilai gedung baru di rumah sakit itu sudah cukup lama, tapi belum juga selesai dikerjakan karena gagal lelang.

“Kami harap ke depan gedung itu tak lagi gagal lelang. Kalau gedung itu sudah bisa difungsilkan dan yang lama ini bisa dibongkar kemudian dibangun kembali yang lebih baik lagi yang benar-benar memenuhi standart,” imbuhnya.

Diakuinya, temuan-temuan ini akan menjadi masukan dan pihaknya akan membicarakan dengan tim anggaran eksekutif  mengenai anggaran di rumah sakit.

“Kami harap managemen rumah sakit ini juga harus menyusun dan menyiapkan dengan baik. Harus mendengar dengan baik tidak bisa hanya satu atau dua orang saja,” ucapnya.

Ia menambahkan, pihaknya meminta tak ada kelompok-kelompok di rumah sakit.

“Jangan kita jadikan obyek jadi maslaah buat masyarakat disini,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Direktur RSUD Jayapura, Donald Aronggear mengakui memang sempat dua hari ruang operasi berhenti karena selama ini tak maksimal untuk sterilkan alat. Namun kini sudah berjalan seperti biasa.

“Memang benar rumah sakit ini ada namanya sistem rujukan. Tapi yang kecil-kecil juga selama ini dioperasi di rumah sakit ini. Makanya kami batasi dulu. Ada yang diprioritaskan dulu,” jelasnya.

Dijelaskannya, rujukan dari rumah sakit tipe C itu prioritas dan dari rujukan poli atau yang bisa ditangani di rumah sakit tipe C.

“Selama inikan sistem rujukannya asal rujuk tanpa koordinasi ke kami. Tapi bagaimanapun tempat tidur ada batasannya, kamar operasi ada batasannya, dokter pun ada batasannya,” ucapnya.

Mengenai masalah obat, pihaknya juga sudah mengatasinya. Bahkan ada apotek di depan rumah sakit yang bisa kerjasama.

“Pesan obat itu memang tak bisa instan. Karena ada tahapannya, tapi pasien itu tak bisa menunggu. Kami sendiri berharap di rumah sakit ada obat tersedia sehingga tak perlu cari di luar lagi, ” pungkasnya. (ara/rm)

LEAVE A REPLY