JAYAPURA (PT) – Drg. Aloysius Giyai, M.Kes dipercaya kembali menjabat sebagai Pelaksana Tugas Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura dan Dr. Anton Mote sebagai Pelaksana Tugas Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura.

 

Penunjukkan itu disertai penyerahan SK oleh Sekretaris Daerah Papua, TEA Hery Dosinaen, SIP, MKP, M.Si disela-sela apel pagi gabungan di Halaman Kantor Gubernur Papua, Senin, (8/7).

 

Dalam arahannya, Sekda Hery Dosinaen mengatakan, penunjukan itu sesuai perintah Gubernur Papua, Lukas Enembe.

 

Penunjukan itu, dilakukan karena RSUD Jayapura dan RSJ Abepura harus diisi oleh pejabat bergelar dokter.

 

“Gubernur sejak beberapa waktu lalu sudah memerintahkan untuk menyiapkan surat tugas penujukan Plt ini. Kami atas nama Gubernur menyampaikan terima kasih kepada pejabat lama yang telah luar biasa melaksanakan tugas,” kata Sekda.

 

Pada kesempatan itu, Sekda Hery Dosinaen meminta kedua pejabat yang telah ditunjuk sebagai Plt dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik sesuai ketentuan yang berlaku.

 

“Pesan saya kepada pejabat yang baru untuk mengikuti ketentuan yang berlaku. Tidak ada yang sulit jika semua mengikuti ketentuan yang ada,” terangnya.

 

Sementara itu, Plt. Direktur RSUD Jayapura, Drg. Aloysius Giyai mengaku, penunjukkan dirinya sebagai Plt. RSUD Jayapura merupakan suatu tanggungjawab besar.

 

Sebab, saat ini rumah sakit milik pemerintah tersebut mempunyai banyak persoalan.

 

“Mulai dari manajemen pelayanan, pasokan air bersih ke rumah sakit, belum rampungnya akreditasi paripurna sebagai rujukan tertinggi, Sistem Rujukan Terpadu (Sisrute) dan sebagainya,” terangnya.

 

“Semua PR ini menguji profesionalisme saya. Karena itu, saya minta dukungan seluruh karyawan atau pegawai rumah sakit semua untuk tugas ini. Sebab memperbaiki rumah sakit ini tidak mudah. Butuh kerjasama, kekompakan, komitmen dari pimpinan hingga bawahan,” sambungnya.

 

Menurutnya, RSUD Jayapura merupakan tempat pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang sangat padat keuangan, padat teknologi, padat karya, padat profesi, padat sistem, padat mutu dan padat risiko.

 

“Mengelola semua ini tidak mudah. Apalagi, ini rumah sakit rujukan tertinggi. Misalnya di bagian keuangan, bagaimana kami harus mengelola dana yang besar bisa dipakai efektif dan dipertanggungjawabkan sesuai aturan pengelolaan keuangan yang benar, dan itu butuh keseriusan dan ketelitian. Kemudian, bagaimana mengatur para dokter sub spesialis hingga cleaning service, lalu bagaimana menggunakan dan memaintanance teknologi yang tinggi dalam pelayanan,” imbuhnya. (ing/rm)

LEAVE A REPLY